Perbedaan Kurban dan Aqiqah Serta Larangannya

Dari sisi syariat, keduanya memang mempunyai kesamaan menyembelih hewan, tetapi ada ketidaksamaan jelas berdasar Al-Qur’an dan hadist. Merilis dari Dompet Dhuafa, ketidaksamaan ini yakni arah, tipe hewan, jumlah hewan, waktu pemotongan, jumlah penerapan yang disyariatkan, pemberian daging, bentuk daging yang diberi, dan gaji untuk penyembelih. 

1. Ketidaksamaan Arah Kurban dan Aqiqah
Secara dasar, kurban mempunyai pengertian menyembelih hewan dengan arah dekatkan diri pada Allah di hari raya Haji atau umum disebutkan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah dan 3 hari tasyrik pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Sementara, aqiqah mempunyai makna menggunting. Menurut beberapa ulama maknanya bermacam, baik itu menggunting hewan atau cukur rambut bayi. Secara istilah, akikah menyembelih hewan sebagai rasa sukur ke Allah atas kelahiran buah kesayangan yang diselipin pemangkasan rambut bayi.

مَعَ الغُلاَمِ عَقِيقَةٌ
Maknanya: Aqiqah mengikuti lahirnya seorang bayi, (H.R. Bukhari).

2. Ketidaksamaan dari Macam Hewan
Kambing, domba, sapi, kerbau, dan unta sebagai hewan yang dibolehkan beberapa ulama untuk jadi hewan ternak. Merilis dari Dompet Dhuafa, hewan ternak jangan ada cacat. Lantas, cukup umurnya umumnya disaksikan dari telah ganti giginya. Bila domba, karena itu minimum berumur setahun dan telah tukar gigi. Bila memakai kambing, karena itu minimum telah berumur 2 tahun. Selanjutnya, sapi dan kerbau capai 2 tahun lebih. Paling akhir, unta harus capai umur 5 tahun atau lebih.

Sementara, hewan yang bisa dipakai untuk aqiqah yakni kambing atau domba dengan tanda tidak cacat, umurnya ialah cukup dewasa dengan ganti gigi. Hal itu berdasar hadist Nabi Muhammad SAW berikut ini:

“(Aqiqah) untuk anak lelaki ialah dua kambing dan untuk wanita satu kambing. Baik sejenis kelamin jantan atau betina, tidak jadi masalah,” (sama sesuai dalam kitab al-Majmu’ Saryh muhazzab).

3. Ketidaksamaan Jumlah Hewan yang Disembelih
Ketidaksamaan lain pada kurban dan aqiqah yakni jumlah hewan yang disembelih. Pada kurban, banyaknya tidak terbatasi dari tipe hewan yang dibolehkan beberapa ulama, dan aqiqah disaksikan dari kelahiran. Berdasar sabda Rasulullah, aqiqah untuk anak laki – laki ialah dua kambing dan untuk wanita satu kambing.

4. Ketidaksamaan Waktu Pemotongan
Ketidaksamaan terang yang lain yakni waktu pemotongan hewan kurban Idul Adha harus di tanggal 10, 11 , 12, 13 Dzulhijjah. Oleh karena itu, selainnya beribadah, kurban momen satu tahun sekali di tanggal-tanggal tertentu. Pemesanan hewan kurban ke peternak bisa juga kelompok atau individu. Berlainan dengan aqiqah yang dapat setiap waktu, bahkan juga sampai anak telah tumbuh dewasa (baligh), jika orangtua belum mempunyai kekuatan keuangan yang cukup.

Kurban atau aqiqah dahulu?
Ketidaksamaan waktu berikut yang kadang membuat orang kebingungan untuk memprioritaskan kurban atau aqiqah.  sebaiknya untuk umat Islam yang mempunyai keadaan keuangan bagus untuk memprioritaskan kurban, khususnya saat bulan Zulhijjah atau Idul Adha makin dekat. Hal itu karena kurban tidak dapat dilaksanakan setiap waktu seperti aqiqah.

5. Ketidaksamaan Kurban dan Aqiqah dari Jumlah Penerapan
Aqiqah cuman dilaksanakan sekali sepanjang umur. Bila anak telah diaqiqahkan oleh orang tuanya saat bayi, jadi tidak perlu aqiqah kembali saat anak bergerak dewasa. Berlainan dengan kurban yang tidak terbatasi jumlah realisasinya sepanjang umur. Nabi Ibrahim jadi anutan umat Islam tidak untuk ragu berkurban tiap tahun.

6. Ketidaksamaan Dalam Pemberian Daging
Islam atur pemberian daging kurban dan aqiqah agar pas target. Pada aqiqah, dagingnya bisa dikasih ke siapa saja, tidak melihat status ekonomi. Beda hal pada kurban, beberapa ulama setuju ada kelompok yang menerima daging ada 3 yakni sepertiga untuk fakir miskin, sepertiga untuk keluarga yang berkurban, dan sepertiga untuk tetangga atau famili paling dekat. Allah berfirman pada ayat berikut ini:

“Karena itu konsumsilah sebagiannya (daging kurban) dan berilah makan orang yang berasa cukup dengan yang ada kepadanya (orang yang tidak minta-minta) dan orang yang minta,” (QS.Al-Hajj:36).

7. Ketidaksamaan Wujud Daging yang Diberi
Ini wajar umat Islam kenali, tetapi harus dikenang kembali jika daging kurban dibagi pada keadaan mentah, sementara daging dari aqiqah harus pada kondisi masak. Oleh karena itu, janganlah sampai terganti karena aqiqah seperti sediakan makanan pada tamu. Berlainan dengan kurban yang penyuguhannya diberikan pada kemauan masing-masing yang memperoleh daging.

8. Ketidaksamaan Gaji Penyembelih
Gaji jadi ketidaksamaan paling akhir kurban dan aqiqah yang harus umat Islam lihat. Orang yang menyembelih hewan kurban tidak diberi gaji, tetapi dia terima daging dari yang sudah sembelih olehnya. Lain dengan aqiqah, beberapa penyembelih bisa minta gaji pada empunya hajat.

Delapan tanda itu jadi pembanding di antara kurban dan aqiqah, karena itu tidak boleh terganti kembali. Saat sebelum melakukan kurban, umat Islam harus tahu tiga larangan kurban agar beribadah jadi prima.

1. Larangan Jual Daging Kurban
Imam Syafi’i menjelaskan jika binatang kurban memiliki sifat nusuq, yakni hewan yang disembelih untuk dekatkan diri pada Allah. Dengan begitu, beberapa yang menerima daging qurban Idul Adha dilarang jual kembali daging yang sudah diterima. Mencuplik dari zakat.or.id, saat hewan ternak telah disembelih, karena itu semua anggota badan dan dagingnya harus selekasnya dibagi atau diberi sebagai hadiah. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَه
Maknanya: Barangsiapa jual kulit hasil sembelihan qurban, jadi tidak ada qurban untuknya, (HR. Al Hakim).

2. Larangan Potong Kuku dan Pangkas Rambut untuk Pekurban

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

Maknanya: Barangsiapa yang sudah mempunyai hewan yang akan diqurbankan, jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, karena itu jangan sampai ia menggunting sedikitpun sisi dari rambut dan kukunya sampai ia usai menyembelih – HR.Muslim dan Abu Daud

3. Larangan Jual Kembali Hewan Kurban yang Sudah Ditetapkan

Bila bekurban sudah membeli hewan untuk berkurban, karena itu dia jangan jual kembali dengan niat yang lain. Beberapa pekurban harus ingat jika niat berkurban hanya karena hanya Allah, tidak untuk ekspos keadaan ekonomi. Bila ada ketidaksamaan sama ukuran atau keadaan hewan, karena itu mengganti lebih bagus dibanding jual kembali.

Kunjungi website: Paket Aqiqah Jakarta