Thu. Jun 17th, 2021

Sebagai Ibu kota, Jakarta banyak dihiasi gedung-gedung pencakar langit, tapi jangan terlena bersama kemegahannya. Beberapa diantaranya berpotensi rawan runtuh dikarenakan lapuk termakan usia.

Dinding usang dan kaca pecah jadi panorama yang biasa dikala melihat Menara Saidah yang terletak di jalur MT Haryono, Jakarta Selatan. Gedung mewah yang mengusung rencana Romawi itu sudah dibiarkan tak beroprasi kembali sejak 2010 silam.

Berdasarkan pengamatan Koran SINDO, banyak gedung baru berwarna hijau bersama marmer mewah itu keluar kotor. Di daerah depan gedung banyak ditumbuhi tanaman liar yang dibiarkan meninggi, tanah merah dan genangan air menghiasi daerah pintu masuknya.

Lampu-lampu di gedung ini pun sudah tidak berguna bersama baik, hal ini keluar dari beberapa lampu di daerah lobby yang sudah pecah, agar menimbulkan situasi mencekam dikala malam hari.
Namun di balik penampilan usangnya, gedung ini miliki rencana yang tidak serupa bersama perkantoran pada umumnya. Patung Julius Caesar dan Singa yang berada di daerah fasad serta lobby jadi ciri khas dari gedung milik Saidah Abu Ibrahim itu.

Karena sudah satu dekade gedung perkantoran yang menawarkan rencana tak biasa ini kosong, hal ini menimbulkan kegelisahan dari masyarakat kira-kira misalnya berlangsung kerusakan layaknya runtuh atau pun serpihan kaca yang jatuh ke pemukiman.

Salah satu warga, Yadi (52) mengaku resah dikarenakan sanggup saja setiap saat gedung 28 lantai berikut runtuh. “Khawatir tersedia tapi alhmadulillah sampe saat ini aman,”ujarnya.
Gedung yang miliki lokasi strategis berikut pun tetap sering ditengok oleh pemiliknya. Bahkan, sang pemilik melepaskan lahan di daerah samping dikelola oleh warga kira-kira untuk lahan penitipan motor. “Masih sering di tengok, tempo hari baru datang. Pemiliknya juga baik, kita diperbolehkan untuk mengelola lahan disamping gedung untuk mata pencaharian layaknya penitipan motor ini,”jelasnya.

Kepala Dinas Cipta Karya, Pertanahan, dan Tata Ruang Pemprov DKI Jakarta, Heru Hermawanto mengungkapkan, pengelolaan gedung mangkrak di Jakarta tetap tetap di pantau. Pemprov DKI Jakarta melakukan audit berkala apakah bangunan tersbut tetap layak dan tetap cocok bersama Izin Mendirikan Bangunannya (IMB) atau tidak. Jika tidak cocok bakal di bongkar.

“Pada 2019 sudah lebih dari 10 gedung yang kita bongkar, tidak benar satunya yang berada di Sudirman dan K.H. Mas Mansur, Karet Tengsin,” jelasnya.

Heru pun menambahkan, untuk persoalan Menara Saidah baru saja di melakukan pengcekan. Struktur bangunannya tetap bagus, IMB nya pun tetap cocok dan tidak tersedia perubahan. Hanya saja dari pihak pemilik berharap kala untuk membenahi manajemen dan layanan gedung.

Tidak hanya Menara Saidah yang dibiarkan terbengkalai, bangunan ‎hotel yang mangkrak di jalur Jaksa, Jakarta Pusat juga jadi panorama yang tak enak dipandang mata dikarenakan dibiarkan terbengkalai tanpa kejelasan.

Berbelok ke kanan dari jalur Kebon Sirih, gedung yang miliki tinggi 15 lantai berikut terpaksa mesti berhenti pembangunannya. Tiang-tiang penyangga dan besi yang berkarat seakan jadi saksi bisu terbengkalainya bangunan tersebut.

Dibagian bawah gedung ini dihiasi oleh para pedagang kaki lima yang menjajakan makanan rumahan. Mereka seolah tidak menghiraukan bakal bangunan yang sudah lapuk dari gedung tersebut.

Sejak awal berdirinya gedung ini pun sudah memiliki masalah perihal perizinannya. Hal ini pun juga diungkapkan Heru, Pemprov DKI tetap memantau perkembangannya, dikarenakan sebenarnya IMB dari gedung berikut belum keluar.

“Itu tetap didalam pengawasan ya,” memahami Heru.

Bila diamati lebih didalam bangunan yang direncanakan untuk hotel budget berikut terbilang kusam. Tetesan air hujan sebabkan semen konstruksi bangunan keluar gelap. Namun, sejumlah orang selamanya memanfaatkannya untuk duduk dan tidur.

Suryati (55) tidak benar satu pemilik warung dikawasan berikut mengungkapkan, pembangunan hotel itu terhenti dan dibiarkan mangkrak sejak dua tahun lalu. Tidak terlihat tersedia pekerja yang melanjutkan penyelesaiannya.

“Sudah lama enggak tersedia yang kerja, katanya tersedia masalah,” memahami wanita paruh baya ini.

Pengamat Perkotaan, Nirwono Yoga mengungkapkan, beberapa gedung mangkrak yang tersedia di Jakarta ‎atau kota besar lainnya sebaiknya mesti langsung di audit kembali oleh Pemprov DKI Jakarta, atau Pemerintah Daerah setempat. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya insiden ambruknya gedung layaknya persoalan gedung di Slipi dan Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa kala lalu.

“Harus segra dilaksanakan pengecekan, jangan sampai menunggu runtuh dikarenakan misalnya letaknya berada di daerah perumahan warga tentu bakal amat menghawatirkan,” jelasnya.

Melakukan audit di beberapa gedung mangkrak bertujuan untuk memelihara warga di kira-kira gedung dan juga pekerja di dalamnya dari bahaya yang bakal menimpa. “Wajib bagi Pemprov DKI untuk tetap melaporkan situasi gedung berikut kepada pmiliknya. Apabila pemilik gedung tidak melakukan respon apa pun langsung mengambil alih tindakan selanjutnya,” memahami Nirwono.

Nirwono menambahkan, banyaknya gedung mangkrak di Jakarta tunjukkan tetap kurangnya pengawasan didalam soal perizinan dan penggunaannya. Seharusnya misalnya dikelola bersama baik, bangunan berikut sanggup dimanfaatkan untuk ruang hijau atau pun diambil alih kepemilikannya untuk disewakan kembali

By toha