Thu. May 19th, 2022

Layanan pengangkutan barang dapat dijelaskan sebagai salah satunya kegiatan budaya paling tua yang dipunyai manusia. Meski amat sukar memastikan waktu kapan pertamanya kesibukan pengantaran barang mulai dilaksanakan, tapi paling tidak kita bisa mendapati ini tebersit diulas dalam beragam catatan kuno.

Contohnya yang ada dalam Kitab Ibrani, Sejumlah raja Pertama (Pasal 9 ayat 26-27), yang ceritakan usaha Nabi Sulaiman bangun armada dagang agar bisa menghadirkan banyak barang yang diperlukan bangsa Ibrani. Dalam Kitab ini dikisahkan kalau untuk merealisasikan impian itu, Nabi Sulaiman memohon pertolongan untuk Hiram, Raja Shur, biar jalankan armadanya sekalian latih bangsa Ibrani melalui lautan.

Hiram yang menolong Sulaiman bikin armada laut, merupakan Raja Phoenicia dari Tirus (nama lain dari Sour atau Shur) menurut Kitab Ibrani. Hiram (huram atau horam) merupakan bersekutu dengan Daud. Hiram banyak menolong Daud dalam pembangunan Istananya dengan mengirimkan pekerja-pekerja yang cekatan. Seusai kematian Daud, Hiram masuk ke sekutu Sulaiman, yang paling menolongnya dalam membuat bait suci.

Peristiwa banyak menulis Phoenicia selaku bangsa maritim ulung yang lakukan pelayaran lintasi benua dalam mengorkestrai perdagangan antara bangsa di periode kuno.

Bermacam hasil arkeologi tunjukkan kalau orang Fenesia bukan sekedar mengarahkan teritori Timur tengah sampai Mediterania, tapi juga sampai ke daerah Britania.

 

Perihal ini, seperti yang diekspos oleh L. A. Waddell (1925), dalam bukunya “The Phoenician Origin of Britons, Scots serta Anglo-Saxons” seperti berikut : “…saat ini ditemui kalau agama agung dari Aryan Phoenicians, yang disebutkan ‘penyembahan-matahari,’ dengan budaya serta kepercayaannya yang baik dan mulia perihal tersedianya kehidupan setelah itu, yaitu kemajuan dari kematian, secara luas umum pada awal Inggris sampai masa Kristen.”

Marsha E. Ackermann, dkk. dalam buku Encyclopedia Of World

History menuturkan: “…bangsa yang paling mengubah peradaban lain lewat perjalanan mereka yaitu beberapa orang Fenisia, beberapa orang pelaut dan petualang dari Lebanon kekinian yang tinggal sampai sepanjang Inggris serta menjajahi sekitaran Sundul Afrika.

Beberapa orang Fenisia dipercayai melaut dari Lebanon (…) ke Inggris buat timah, dan dicatat oleh beberapa orang Romawi.

Terkait waktu pintas pelayaran, diekspos dalam Alkitab Ibrani, Sejumlah raja pertama (10:22), berikut ini: “Dikarenakan di laut raja memiliki banyak kapal Tarsis masuk dengan beberapa kapal Hiram; serta sekali 3 tahun banyak kapal Tarsis itu ada bawa emas dan perak dan gading; pun kera dan burung merak.

Lama waktunya jam yang diperlukan dalam pelayaran itu pastinya disebabkan pada kala itu pelayaran kapal begitu tergantung pada tenaga angin.

Buat ketahui jarak menempuh /hari banyak kapal kuno, saya pengin ajak pembaca mengamati jarak dan waktu pintas pelayaran yang dikabarkan Fa Hsien (biksu Cina yang pelawat ke Asia Tenggara serta India pada zaman kelima) dalam catatannya, jika pelayaran dari Yeh-p’o-t’I (satu tempat di Nusantara, banyak pakar biasa mengidentifikasinya dengan Jawadwipa) ke Kanton rata-rata menghabiskan waktu sekitaran 50 hari pelayaran.

Peristiwa Pengantaran Barang di Indonesia

Peristiwa Berdirinya Jasa Pengantaran di Nusantara
Riwayat berdirinya layanan pengantaran yang pertama Indonesia mulai pada kala penjajahan Belanda. Pada era penjajahan VOC, ialah seputar tahun 1602, semuanya orang yang pengin kirim surat mau atau tidak mesti memercayakan nya ke Stadsherberg atau gedung pemondokan kota.

Cara barusan sebetulnya sangatlah tidak efisien, serta orang Gubernur Jenderal namanya Gustaaf Willem Baron van Imhoff terganggu untuk bikin jasa pengantaran yang jauh semakin efektif, aman dan teruji.

Menjadi data, Baron van Imhoff yang terlahir di Frisia Timur, 8 Agustus 1705 adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-27 yang memerintah lebih kurang tahun 1743 hingga sampai 1750.

Tahun 1746
Berawal dari ide si Gubernur Jenderal itu, pada akhirnya di tahun 1746, benarnya di tanggal 26 Agustus di Batavia dibuat kantor pos pertama di Indonesia.

Dengan berdirinya kantor pos itu, karenanya pengangkutan barang jadi lebih efektif, di mana penduduk jadi bertambah simpel dan rasa aman saat kirim beragam document penting tak perlu risau serta ketakutan.

Tahun 1750
Berdirinya jasa pengangkutan di Indonesia itu lalu bersambung di mana pada lebih kurang tahun 1750 atau empat tahun semenjak berdirinya kantor pos di Batavia, dibikin pula cabang kantor pos di Semarang.

Pembangunan kantor pos cabang di Semarang itu bertambah memberinya udara segar buat perubahan layanan pengangkutan di Indonesia.

Pembangunan cabang kantor pos di Semarang itu bisa terbuktikan memberi resiko positif dengan menolong kecepatan pengangkutan.

Tentu hal itu disongsong dengan baik sekali oleh warga. Arah pengangkutan yang dilintasi Pos Indonesia saat itu yakni Pekalongan, Cirebon dan Karawang.

Tahun 1808
Dalam histori layanan pengangkutan di Indonesia itu, ada nama Daendels dalam jalan ceritanya. Di mana di tahun 1808, kepimpinan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff tertukarkan oleh Herman Willem Daendels.

Tentu Anda ketahui siapa orang ini bukanlah? Ya, ia yang mempopulerkan prosedur kerja rodi. Penduduk Indonesia pada periode kepimpinan Daendels harus rasakan pahitnya kerja rodi.

Akan tetapi dibalik kejamnya siksaan kerja rodi yang tengah dilakukan Daendels, prosedur serta layanan pengangkutan pun ikut semakin bertambah baik. Karena tersokong dengan infrastruktur yang sedang dilakukan Daendels itu.

Tahun 1875
Misalnya dengan terdapatnya pembangunan jalan dari Jawa Timur sampai Jawa Barat yang lebih membantu proses pengangkutan barang dari setiap wilayah.

Bersambung di tahun 1875, Pos Indonesia disatukan dengan dinas telegraf serta berpindah nama jadi Post En Telegraafdienst.

Pengaruh dari peleburan serta pertukaran nama itu ikut berakibat pada pertukaran kantornya, di mana pada awalnya kantor pos pusat ada dalam Gambir, Jakarta, berganti ke kota Bandung.

Sejak mulai itu Pos Indonesia berkembang makin cepat sampai selanjutnya berbeda posisi jadi Perusahaan Negara. Waktu itu Pos Indonesia jadi PN Postel, yaitu Perusahaan Negara Pos serta Telekomunikasi.

Tahun 1965
Lantas pada tahun 1965 PN Postel merasakan perombakan nama kembali, ialah jadi PN Pos dan Giro yang merujuk dengan bertambah maju serta bertumbuhnya bidang komunikasi serta pos.

Tahun 1978
Di tahun 1978 Pos Indonesia kembali berubah nama dari PN Pos serta Giro jadi Perum Pos dan Giro dengan visi membetulkan jalinan dan kemampuan pengantaran dalam negeri pula luar negeri.

Tahun 1995
Sampai selanjutnya pada tahun 1995 Pos indonesia ganti nama jadi PT Pos Indonesia (persero) sampai sekarang ini. Saat ini Pos Indonesia udah punyai cabang di seluruhnya lokasi NKRI, di mana paling sedikit 24.000 titik capaian pengantaran.

Servis yang diberi pula bertambah baik, entahlah itu service pra pengantaran, proses pengangkutan sampai hingga masa pengantaran. Butuh Jasa Cargo Hubungi Cargonesia.com

By suyua